Menhub RI: Pola Pikir Keselamatan Bentuk Budaya Selamat



Sumber:airportsafetystore.com

Pola pikir tentang keselamatan haruslah membentuk budaya keselamatan. Dimulai dari invididu yang meliputi regulator, operator, stakeholder semua harus memiliki mindset keselamatan sehingga bisa menjadi budaya di lingkungan bandara Soekarno-Hatta.

Demikian pesan yang disampaikan Menteri Perhubungan E.E Mangindaan saat memberikan sambutan di acara pembukaan Ramp Safety Campaign 2013 di Gedung Angkasa Pura II, Soekarno-Hatta, Selasa (3/11). Ia menegaskan bahwa keselamatan dan keamanan adalah dua sisi yang sama dalam satu mata uang. Jika safety lebih ke arah udara, maka security mengarah ke darat. Keduanya sudah menjadi kebutuhan mutlak yang harus ada pada setiap bandara, khususnya Bandara Internasional Soekarno-Hatta.

“Membersihkan runway dari benda-benda asing seperti batu adalah bagian dari keselamatan. Bahkan pesawat yang telat, yang banyak dikeluhkan oleh penumpang, juga merupakan bagian dari keselamatan mengingat padatnya arus lalu lintas udara,” tuturnya.

Menurutnya, setiap jam di bandara ini terjadi penerbangan sebanyak 64 kali dan sehari ada 684 lebih pergerakan pesawat. Jika tidak mengindahkan keselamatan, tentu akan berbahaya tidak saja bagi penumpang namun bagi lingkungan sekitar bandara.

Pergerakan angkutan udara dari tahun ke tahun mengalami peningkatan yang signifikan, baik frekuensi penerbangan maupun jumlah penumpang yang menggunakan jasa angkutan udara. Hal ini jelas berpengaruh terhadap kapasitas terminal, ketepatan waktu penerbangan dalam melayani penumpang, yang semuanya bergantung dari kapasitas pesawat ketika berada di Apron.

Untuk mewujudkan keselamatan penerbangan, PT Angkasa Pura Kantor Cabang Utama Bandara Soekarno-Hatta bersama perusahaan-perusahaan angkutan udara, perusahaan-perusahaan yang bergerak dalam bidang pelayanan darat pesawat udara serta pemangku kepentingan lainnya dalam setiap aktifitas kegiatan di sisi udara telah membentuk wadah yang dinamakan ‘Komunitas Keselamatan Sisi Udara Bandara Soekarno-Hatta’. Tujuannya agar semua pihak dapat menjamin keselamatan operasional pesawat udara di daerah pergerakan (movement area)

Selain pembukaan dan sambutan, acara ini juga dilengkapi dengan workshop pada hari kedua dengan tema ‘Regulasiand Safety Awarness Ramp Safety Campaign 2013’ yang akan dihadiri oleh Direktur Bandar Udara Bambang Tjahyono. Setelah itu berlanjut pada Operasi Simpatik Ramp Safety Campaign 2013 pada tanggal 5 Desember yang dilaksanakan di Sisi Udara Bandara Soekarno-Hatta.  Seluruh komunitas keselamatan yang bertugas di sisi udara akan menjadi pesertanya.

ITALIAN PACKAGING AND FOOD PROCESSING TECHNOLOGY PRESENCE AT THE PROPAK INDONEISA



Jakarta (November 19, 2013) – Italian Trade Commission, the trade promotion office of the Italian Embassy, together with UCIMA (Italian Packaging Machinery Manufacturers' Association) organized a national pavilion at the PROPAK INDONESIA 2013 to be held on the 20-23 November 2013 at the Jakarta International Expo, Kemayoran, Jakarta - Indonesia.

Four leading Italian companies dealing in the production complete line of packaging machinery such as  turnkey filling lines, free-standing machines for food and beverages industries to produce complete packaging lines for the products such as tomato paste, jams, majonnaise, ketchup, sauces, canned fruits or vegetables, fish, juices,etc (FMT).  Company specializing in the machinery of the production and packaging of rolls for food wrapping called Rotomac who is also member of IMS Delmatic Group will be present in the fair. Another innovative company operating in the graphic arts industries and produce pre-press equipment and related machinery, including flexographic printing machinery associated to converting technologies such as lamination and slitting machines, produce unique machinery for the flexible packaging and label conversion industries (Multipress Srl). Last the pavilion will also be participated by a multinational company who operated  in 24 countries, Sacmi now heads over 70 companies operationing in various business sectors, from machines and complete plants for the ceramic, beverage, packaging, food processing and plastic processing industries to advanced quality control systems.

Indonesia food and packaging Industry grew rapidly and it is expected to continue to grow. The Indonesian Packaging Federation (IPF) estimated the domestic packaging industry to achieve US$4.36 billion (Rp 40 trillion) in revenue this year – an 11.1% increase over last year. This growth is expected to be boosted mainly by the local food and beverage and pharmaceutical industries, particularly food and beverage which consumes around 70% of the total packaging supply. 

Plastic packaging - flexible and rigid – will see the greatest demand, contributing around 56% of total demand, based on market trends over the past three years. “In the past, plastic-based packaging only accounted for around 51%, but now the demand has increased significantly as it is considered more efficient. If the current stable growth rate of more than 10% per anum continues, it is believes that Indonesia’s packaging industry will see revenue double by 2016.

Dr. Samuele Porsia, Italian Trade Commissioner to Indonesia, is convinced that since Italy is strong in the machinery for packaging and food processing, Italy can meet the demand of Indonesian Industry.

This can be confirmed by the constant imports of the Indonesian of packaging machinery from Italy constantly increases where in 2010 the market share was recorded US$ 50,227,873 or 19% of market share and the amount doubled in 2012 reaching US$ 99,566,653 and 23% of the market share.

Referensi Buku Gratis untuk Mahasiswa, Peneliti dan Ilmuwan


Meneliti adalah pekerjaan intelektual. Untuk dapat menghasilkan karya ilmiah yang mumpuni dan dapat dipertanggungjawabkan, tidak sedikit para mahasiswa dan ilmuwan yang ‘kerepotan’ untuk ke perpustakaan maupun mencari dari internet tentang hasil penelitian dari dalam dan luar negeri. Di rimba dunia maya, sulit memisahkan antara sumber yang memiliki kredibilitas tinggi dengan sumber yang tak bisa dipertanggungjawabkan. Namun demikian, banyak juga website-website yang dapat dijadikan referensi tepercaya.  Berikut hasil penelusuran Porbess ke berbagai situs penyedia layanan ebook ilmiah yang bisa dijadikan rujukan sumber penelitian.

http://avaxhome.ws/
Situs ini menyediakan buku-buku yang terkenal di pasaran dunia dengan berbagai tema, dalam bentuk ebook gratisan. Misalnya buku Six Sigma Workbook for Dummies, Financial and Managerial Accounting, Instant Marketing for almost Free, Tested Advertising Methods dan lainnya. Cukup membantu bagi para mahasiswa yang butuh buku-buku berkelas dunia yang memuat beragam hasil penelitian tanpa harus mengeluarkan uang banyak ke perpustakaan atau fotokopi.

http://www.moreofit.com/similar-to/library.nu/Top_10_Sites_Like_library.nu/
Ini adalah situs yang merujuk kepada situs-situs lain penyedia jasa ebook referensi dan hasil penelitian. Bila para peneliti atau mahasiswa ingin mengetahui website apa saja yang bisa dijadikan rujukan untuk mengunduh buku-buku bermutu, silahkan berkunjung ke situs ini.

http://www.magazinesdownload.com
Tidak hanya buku yang bisa dijadikan referensi ilmiah, majalah juga salah satu sumber data sekunder yang perlu didapatkan. Situs ini menyediakan ratusan majalah dalam bentuk PDF dengan beragam tema, mulai dari fotografi, arsitek, elektronik, ekonomi dan bisnis, fesyen, dan lainnya. Majalahnya pun bukan majalah ‘kemaren sore’, melainkan majalah-majalah top dunia seperti Forbes, The Economist, Newsweek dan majalah lain yang umumnya memiliki hasil-hasil penelitian dari internal mereka.

http://www.ebook3000.com
Di Amerika, ebook adalah produk literasi yang tidak kalah larisnya dengan buku konvensional. Banyak penulis, termasuk ilmuwan di Amerika kini beralih menulis ebook ketimbang buku dalam menuangkan hasil penelitian mereka. Situs ini menyediakan beragam tema penelitian yang layak diunduh untuk menunjang riset Anda.

http://ebookee.org/
Mirip dengan situs di atas, website ini juga menyediakan ratusan ebook untuk mendukung referensi penelitian.

http://www.pdffolder.com/
Situs ini menyediakan beragama ebook dengan spesialisasi tema kewirausahaan dan manajemen, cocok untuk mereka yang sedang meneliti dua bidang tersebut. Kategorinya ada yang membahas tentang etika bisnis, pengembangan bisnis, keuangan, sumber daya manusia, akuntasi, ekonomi maupun hukum niaga.

Meski anggaran APBN untuk penelitian hanya 0,3 persen, namun hal tersebut tidak perlu menjadi hambatan bagi para ilmuwan di Indonesia. Sebab dunia yang sudah terbuka lebar dan mudah diakses ini sangat membantu proses pencarian data maupun hasil penelitian. Apalagi universitas-universitas top dunia membuka kursus gratis bagi siapapun yang ingin belajar jarak jauh. Ini membuktikan bahwa dunia sains, dunia penelitian, tidak lagi menjadi menara gading yang hanya dapat diakses oleh orang-orang berduit saja.

Darmadi: A Result Oriented Leader


Sumber: thetelegraph.co.id

After a success in Malaysian market, AirAsia spread its wing to neighboring Indonesia.
Entering Indonesia in 2007, AirAsia soon became one of the preferred airlines for the locals. AirAsia contributes 42 percent market share from international flight. “Asian is as same as Europe. It has 500 million people live there. So it is a potential market to win,” Darmadi says.

As a low-cost carrier, AirAsia enables people from lower middle class to the upper class to fly to any Asian country without emptying their pockets. Airline isn’t an exclusive transportation anymore and flying doesn’t only belong to the upper class society. The low-cost airline founder, Tony Fernandez realized he wasn’t the first in the business with Southwest Airlines already flying above American skies. But he was sure, with the right moves; affordable flight is the key to success.

Online Strategy
The fact that LCC isn’t a new product in air transportation business pushes AirAsia to create new strategies including online ticketing. When AirAsia entered Indonesia market in 2007, only 55 percent people booked ticket online. They were accustomed to booking through travel agent. It was a challenge for LCC which should have at least 95 percent of its ticket booked online.

That got Darmadi worried, especially when at the time AirAsia was dubbed “the travel agent killer”. Unlike Thailand and Malaysia, Indonesian market still had to be educated about online booking.

“After about five years here, 80 percent of people book ticket via Internet. eTicketing is more efficient in cost. And travel agents now are our ‘freelance agents’ that meet customers directly. Our online ticket booking on average is done by travel agents,” he explains with a smile.

Aside from being agents, Darmadi suggests that they create some packages for holiday and tours. They started months before the holiday season began, booked tickets, packaged it with hotels and sold it to customers.

Yet, as a newcomer, Darmadi knows he has more challenges than going online. AirAsia still has to win many customers’ hearts, pointing to the facts that 50 percent of its passengers are first-time customers. How did he do it?

“Average Indonesian people love to travel, especially to foreign countries. We make it easy for them to go abroad by providing affordable tickets,” he asserts.
 
A Low Profile CEO
As a local CEO, Darmadi is responsible for technical support. Despite having only 17 airplanes, trying to beat competitors’ with an average of 80 airplanes, Darmadi is optimistic about AirAsia’s existence in the market. One reason is customers’ loyalty. Another one is the SOP created by the head office.

“System is centralized from the head office. As long as we are in accordance with SOP, customers will be served anytime they meet problems. The system enables us to solve the problem effectively.”

The system enables his staff to do their work anywhere without having their presence in office. If Darmadi can make a decision to get a work done in a café, so can his staff. End result is what matters most for a result oriented leader like Darmadi.  

Darmadi is also a ‘down to earth’ CEO. He communicates with everyone in each level without a gap. For him, CEO is an extended connotation of branch manager. So he never feels more important when he’s meeting managers or supervisors from other companies.

“In my office, I directly meet my staff in lower level, help them and ask what problem they have. The culture brings me to treat other people as my friends.”

Focusing on Indonesia
 In developing business in Indonesia, Darmadi proposes regularly to central management based on demands and needs. At least we make a purchase order of five new planes each year. He also negotiates with the Indonesian government about new routes. In his calculation, new routes to regional countries mean efficiency in local destinations.

“One flight to Singapore means five flights to Surabaya. So, AirAsia and the government can get more income with efficient cost,” he asserts.

In his opinion, AirAsia Indonesia should support domestic economy, especially in the situation where unemployment rate is higher. That’s why Darmadi recruits local people for pilot, co-pilot and cabin crews.

“Our regional flights have a blend of local and foreign crews.”
  
When it comes to safety, Darmadi goes all the way to ensure that AirAsia passengers should have nothing to worry about. That includes having crews, especially pilots and co-pilots, live near the airport.

“We can imagine when a pilot’s home is far away, or they live in suburb area. We must pick them up, take them to airport and it takes hours. They will feel tired before flying. It is very dangerous for him and our passengers.”

Aside from the pilots, he also focuses on airplane maintenance for safety. Management buys new planes directly from manufactory to be used for the next 20 years. With technology that is available today, problems can be detected and repaired by computer.

“Maintenance is expensive. But it can minimize a lot of risks,” he concludes. 

Sumber: Soewarna Digest 19th Edition

Jonathan Favreau: A Man behind the Applause


Sumber:zacparsons.com

Jonathan Favreau, born June 2, 1981 is a Director of Speechwriting for President Barack Obama.  He graduated as Valedictorian from College of the Holy Cross. In college, he accumulated a variety of scholastic honors, and took part in and directed numerous community and civic programs. At the College of the Holy Cross, he was treasurer and debate committee chairman for the College Democrats, and studied classical piano. After graduation, he went to work for the John Kerry Presidential campaign in 2004, working to collect talk radio news for the campaign, and eventually was promoted to the role of Deputy Speechwriter. While working for the Kerry campaign, he first met Barack Obama. 

In 2005, Robert Gibbs recommended Favreau to Obama as an excellent speechwriter. Favreau was hired as Obama's speechwriter shortly after Obama's election to the United States Senate. Obama and Favreau grew close, and Obama has referred to him as his "mind reader." He went on the campaign trail with Obama during his successful Presidential election campaign. In 2009, he was named as a White House staff member  as Director of Speechwriting. He became the second youngest chief White House speechwriter on record after James Fallows. 

Favs, his nick name, has many organization experiences since he was a stundent college. From 1999 to 2000, he served on the Welfare Solidarity Project, eventually becoming its director. In 2001, Favreau worked with Habitat for Humanity and a University of Massachusetts program to bring visitors to cancer patients. In 2002, he became head of an initiative to help unemployed individuals improve their resumes and interview skills. He also earned a variety of honors in college, including the Vanicelli Award; being named the 2001 Charles A. Dana Scholar; memberships in the Political Science Honor Society, Pi Sigma Alpha, the College Honors Program, the Sociology Honor Society, Alpha Kappa Delta, and was awarded a Harry S. Truman Scholarship in 2002. He was an editor on his college newspaper, and during summers in college, he earned extra income selling newspapers as a telemarketer, while also interning in John Kerry's offices.

He directly joined Senator John Kerry's 2004 presidential campaign soon after graduation from the College of the Holy Cross. While working for the Kerry campaign, his job was to assemble audio clips of talk radio programs for the Kerry camp to review for the next day. When the Kerry campaign began to falter at one point, they found themselves without a speechwriter, and Favreau was promoted to the role of deputy speechwriter.

Favreau first met Obama (then an Illinois State Senator running for the U.S. Senate), while still working for Kerry, backstage at the 2004 Democratic National Convention as Obama was rehearsing his keynote address. Favreau, then 23 years old, interrupted Obama's rehearsal, advising the soon-to-be-elected Senator that a rewrite was needed.

Obama communications aide Robert Gibbs, who had worked for Kerry's campaign, recommended Favreau to Obama as an excellent writer, and in 2005 he began working for Barack Obama in his United States Senate office, before joining Obama's presidential campaign as chief speechwriter in 2007. His interview with Obama was on the Senator's first day. Uninterested in Favreau's résumé, Obama instead questioned Favreau on what motivated him to work in politics, and what his theory of writing was. He described this theory to Obama as, "A speech can broaden the circle of people who care about this stuff. How do you say to the average person that's been hurting: 'I hear you, I'm there?' Even though you've been so disappointed and cynical about politics in the past, and with good reason, we can move in the right direction. Just give me a chance."

For his work with Obama in the campaign, he would wake as early as 5 am, and routinely stayed up until 3 am working on speeches. His leadership style among the other Obama speechwriters is very informal. They will often meet in a small conference room, discussing their work late into the evening over take-out food. According to him, "My biggest strength isn't the organization thing." He is credited with popularizing the catchphrase, "Yes We Can", which was the slogan of Obama's 2004 Illinois Senate campaign. He has spent the last two months working for up to 16 hours a day on the speech in locations all over Washington, from the Penn Quarter Starbucks to his new, still-unfurnished apartment in the city’s upmarket Dupont Circle. He sits with Obama for 30 minutes at a time and writes down everything the president says. Then, he sits down and writes, gets edits from Obama and writes some more. A team of assistants are on hand to furnish him with material, from research on key moments of crisis in American history to the collected speeches of former presidents.

Favreau has been named one of the "100 Most Influential People in the World" by Time magazine. He ranked 33rd in the GQ "50 Most Powerful in D.C." and featured in the Vanity Fair "Next Establishment" list. Favreau was also one of several Obama administration members in the 2009 "World's Most Beautiful People" issue of People magazine.

Favreau has said his work with Obama will be his final job in the realm of politics. In regard to his post-political future, he said, "Maybe I'll write a screenplay, or maybe a fiction book based loosely on what all of this was like. You had a bunch of kids working on this campaign together, and it was such a mix of the serious and momentous and just the silly ways that we are. For people in my generation, it was an unbelievable way to grow up.”

So, if Obama has a plan to visit Indonesia next years during his position as a US President, maybe Indonesian people will not hear Obama said, “Pulang kampung, nih!” again.
Sumber: Soewarna Digest 12th Edition

Ilmuwan Berhasil Ciptakan ‘Mata Tiruan’ untuk Orang Buta


Sumber:www.reportase.com
Penyandang tuna netra atau mereka yang mengalami gangguan penglihatan sebentar lagi bisa ‘melihat’ dunia ini kembali. Para ilmuwan di Second Sight, perusahaan Amerika yang khusus mengembangkan teknologi penglihatan telah berhasil menciptakan mata tiruan yang dinamakan ‘Argus Il’. Alat canggih ini terbukti mampu membuat seorang yang mengalami kebutaan untuk melihat warna, gerakan dan bahkan bentuk objek atau benda. Sebanyak 50 pasien tunanetra yang telah ditanamkan alat ini pada retinanya kini sudah memiliki kemampuan tersebut. ‘Argus Il’ menggunakan kamera kecil yang ditempel pada kacamata, prosesor yang bisa menerjemahkan sinyal dari kamera ke dalam perangsang elektronik,serta mikrochip dengan 60 elektroda yang langsung ditanam ke dalam retina. 

Proses kerjanya dimulai dari gambar atau imej yang ditangkap oleh kamera mini pada kacamata, kemudian diproses oleh mikrochip untuk dikonversikan menjadi informasi visual dalam bentuk sinyal elektronik yang dikirimkan ke perangkat yang telah ditanam ke retina tersebut. Selanjutnya, diterjemahkan dalam bentuk pola cahaya yang menangkap objek. Sebelumnya, pasien penderita gangguan penglihatan yang menggunakan alat ini harus sudah mempelajari bagaimana menginterpretasikan pantulan cahaya yang diterima.

Pada percobaan pertama, seorang pasien buta mampu membaca tulisan kurang dari satu detik dengan tingkat akurasi mencapai 89 persen. Pasien tersebut juga mengikuti tes membaca kata-kata yang lebih panjang lagi seperti membaca surat. Dengan tingkat keakuratan yang tinggi tersebut, pasien ini terbukti memiliki tingkat resolusi spasial yang bagus.

Selain kebutaan, gangguan penglihatan lain yang terbantukan dengan perangkat ini adalah Retinitis Pigmentosa. Gejala ini merupakan gangguan pada retina yang mempengaruhi penglihatan pada malam hari. Dengan menanamkan Argus Il pada retina, keterbatasan penglihatan tersebut dapat dipulihkan kembali sehingga kemampuan membaca bagi penderita retinitis pigmentosa bisa meningkat.

Eric Selby adalah salah satu pasien yang berhasil ‘melihat’ kembali dunianya. Selama dua puluh tahun ia bergantung kepada anjing untuk berjalan, kini setelah dipasang mata tiruan ini, gangguan penglihatan yang ia derita pun berangsur hilang. Ia bahkan mampu mendeteksi bendang-benda umum seperti trotoar dan aspal. Meski fungsi dasar alat ini adalah memantulkan cahaya yang kemudian diterjemahkan ke dalam otak, namun Selby sendiri mengaku sangat takjub bahwa kini sudah mampu melihat lagi.
Alat ini rencananya mulai dipasarkan di Eropa, terutama di Belanda. Dalam beberapa minggu ke depan, jika regulasi di Belanda memungkinkan, maka ini akan menjadi ‘mata buatan’ pertama yang dijual di Eropa dan bisa menolong mereka yang mengalami gangguan penglihatan.
Namun alat bantu ini juga memiliki ‘kelemahan’. Ia hanya berfungsi pada mereka yang sel-selnya masih berfungsi normal. Saraf matanya harus tetap hidup, dan Argus Il ini cenderung diperuntukkan buat mereka sebelumnya bisa melihat. Jadi bagi yang mengalami kebutaan sejak lahir, alat ini belum bisa membantu. 

Kelemahan lainnya, alat ini sangat mahal. Per unitnya bisa mencapai US$ 100,000 atau kalau dirupiahkan dengan kurs Rp.8000, maka perlu merogoh kocek 800 juta rupiah. Hampir sama dengan harga mobil Toyota Alphard atau rumah di Citraland, Jakarta seluas 100 meter persegi. Barangkali pemerintah perlu mengangarkan dalam APBN sebagai alokasi kesehatan mata untuk masyarakat ini. Setidaknya, diperuntukkan bagi manusia-manusia berkualitas yang mengalami gangguan penglihatan.

Panca indera penglihatan memang mahal. Tidak heran ada kalimat bijak yang mengatakan, bahwa selagi punya mata, maka berarti kita masih terkategori sebagai orang kaya. Minimal, lebih kaya 800 juta rupiah.

Teh Hijau Bisa Turunkan Berat Badan 44% Selama 6 Minggu


Sumber:www.klipingkita.com
Obesitas atau kegemukan bukanlah indikasi kesehatan seseorang, selain merupakan gejala awal dari penyakit-penyakit berat yang mungkin akan hinggap ke tubuh seperti darah tinggi, diabetes, stroke atau penyakit lainnya. Agar berat tubuh tetap terjaga, tidak jarang seseorang melakukan diet yang berlebihan sehingga berat badan belum tentu turun, namun penyakit baru pun mulai menghampiri. Padahal ada cara alami untuk menurunkan berat badan. Mengkonsumsi teh hijau adalah bagian dari cara diet sehat untuk melangsingkan tubuh.

Menurut hasil penelitian para ilmuwan makanan di Penn State, AS, bahan yang terkandung dalam teh hijau mampu mengurangi gula darah pada tikus. Karena sebagaimana diketahui, tikus memiliki karakteristik, genetik dan perilaku yang mirip dengan manusia.  Banyak gejala yang terdapat pada manusia dapat direplikasi pada tikus. Termasuk dalam hal percobaan teh hijau tersebut yang ternyata bisa menjadi cara atau tips diet sehat yang alami, bahkan bisa sebagai pelangsing tubuh.

Dalam teh hijau terdapat antioksidan bernama epigallocatechin-3-gallate atau EGCG yang pada penelitian tersebut terbukti menurunkan sari pati jagung dalam glukosa dibandingkan dengan tikus yang tidak diberikan EGCG. Teh hijau atau Camllia sinensin mampu mencegah obesitas karena mengandung senyawa ini. Dalam risetnya, tikus yang memiliki tingkat lemak hingga angka C57bl/6J diberikan komposisi EGCG sebesar 0.32% selama 6 minggu. Hasilnya, terjadi penurunan berat badan hingga 44%.  EGCG ternyata efektif untuk mengambat lipase pankreas (LP) sehingga mampu berfungsi sebagai pelangsing tubuh pada hewan yang identik dengan koruptor ini.

Perbandingan dosis EGCG yang diberikan pada tikus percobaan tersebut adalah setara dengan satu setengah sendok teh hijau untuk manusia.  Bila seseorang minum teh hijau bersamaan dengan sarapannya, terutama roti, maka bisa mengurangi lonjakan glukosa dalam darah dibanding jika tidak meminumnya.  Ini merupakan cara diet sehat bagi mereka yang hobi makan tapi tetap ingin menjaga berat badan, dengan catatan bahwa mereka yang minum teh hijau tidak boleh menambah gula pada cangkirnya, karena bisa menghilangkan efek positif teh hijau untuk membatasi peningkatan glukosa darah.

Namun demikian, teh hijau pun memiliki efek buruk juga bila tidak mengkonsumsi dengan cara ‘membabi buta’. Beberapa diantaranya seperti sembelit, diare, sakit kepala, dan susah tidur. Karena itu, bagi yang sedang menjalankan program pelangsingan tubuh dengan menjadikan teh hijau sebagai salah satu yang harus dikonsumis, maka harus memperhatikan hal-hal berikut:

-Jangan minum teh hijau (baik panas atau dingin) yang dibiarkan lebih dari satu jam karena akan kehilangan vitamin dan zat antioksidannya.

-Jangan minum teh hijau di waktu pagi hari, terutama saat perut kosong.

-Waktu yang paling tepat untuk minum teh hijau adalah 1 jam sebelum atau sesudah makan

-Jangan mengkonsumsi teh hijau bersama obat-obatan untuk menghindari efek samping

-Karena teh hijau juga mengandung kafein, teh hijau yang terlalu pekat akan menyebabkan gangguan pencernaan, sulit tidur dan jantung berdebar.

-Maksimal 3 cangkir teh hijau setiap hari. Jika berlebih akan mengganggu sistem pencernaan